Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Desember 2010

MENAKAR KEMBALI KEHIDUPAN BERAGAMA DI KECAMATAN CIBIUK


Oleh: Moh. Dahlan

Cibiuk, sebuah daerah yang berada di Kabupaten Garut , menurut data yang diperoleh dari Kantor Kecamatan Cibiuk, secara demografi Cibiuk  berada di kaki gunung Haruman, beriklim sejuk serta  sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, dengan jumlah penduduknya 35.728 jiwa.

Dalam bidang pendidikannya, Cibiuk tak ketinggalan jauh dengan Kecamatan lainya yang ada di Kabupaten Garut, cukup komplit mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, atau kejuruan. Begitupun dalam bidang sosial keagamaan, mayoritas masyarakat Cibiuk menganut agama Islam, dengan ditandai dengan berdirinya Masjid dan surau dikampung-kampung.

Penulis dalam kajian ini mencoba menganalisis secara obyektif bagaimana kehidupan beragama di Cibiuk, yang mana dekade terakhir ini mengalami perubahan, baik dalam segi kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini untuk menakar kembali kehidupan beragama cibiuk tempo dulu dengan cibiuk sekarang yang sudah terjamah modernisme disemua lini kehidupan masyarakatnya.

Nama Cibiuk menurut sumber yang dapat dipercaya mengandung makna filosofis yang amat dalam, kalaulah ditafsirkan Cibiuk terdiri dari dua suku kata, Ci adalah air dan Biuk adalah bau, jadi Cibiuk mempunyai arti  air yang bau. Sekilas makna tersebut memberikan gambaran bahwa air yang ada di wilayah Cibiuk tidak layak dikonsumsi karena baunya tidak enak untuk dihirup, namun arti itu bukan kesana arahnya, namun mengandung makna anonim, yang dimaksud disini adalah Cibiuk sebuah daerah yang harus terhindar dari perbuatan yang buruk, baik dimensinya menurut norma masyarakat maupun dengan aturan-aturan agama (syariat Islam).

Dahulu Cibiuk mempunyai peran strategis dalam proses islamisasi wilayah-wilayah sekitarnya, karena Cibiuk dijadikan sentral penyebaran Agama Islam oleh waliyulloh Syeh Jafar Siddiq. Beliau satu generasi dengan Syeh Muyhi yang menyebarkan Islam di daerah Tasik Selatan (Pamijahan), bukti-buki otentik bisa dilihat dari berbagai petilasan beliau serta makamnya di sebelah barat kecamatan tepatnya di Pasir Pureut Desa Cipareuan.  

Namun kini, seiring dengan perkembangan jaman yang begitu pesat, modernisme telah menjadi bagian tak terpisahkan dengan masyrakat Cibiuk, membawa dampak yang kurang bersinergi dengan budaya religius yang telah lama tertanam. Terjadi akulturasi budaya yang salah kaprah dan cenderung pragmatis yang membahayakan sendi-sendi kehidupan beragama dan humanisme . Budaya gotongroyong, empati dan kepedulian kepada sesama, kini berubah menjadi individualistik  dan skeptis. Penyakit masyarakat sudah merambah tiap-tiap kampung, yang mana orang tua dulu menganggap bahwa kejadian itu terjadi di kota-kota besar saja. Padahal kalau menilik dari segi kuantitasnya, kini bermunculan sarana pendidikan keagamaan yang hampir merata ditiap-tiap kampung, seperti Madrasah Diniyah, Pondok Pesantren dan Majlis Ta’lim.
 Dalam benak penulis muncul berbagai pertanyaan  apa yang salah dalam hal ini, pemimpinkah yang tidak mempunyai kepekaan sosial, para pemuka agama kah yang sibuk mencari popularitas bak selebriti, gejala globalisasikah atau emang tanda-tanda  akhir zaman sebagaimana yang digambarkan dalam hadits-hadit Rosulullah.

Gonjang Ganjing pemahaman Teologi baru
Ada yang menarik untuk diteliti lebih mendalam tentang  apa yang terjadi sekarang di masyarakat Cibiuk, yaitu bermunculannya faham-faham yang dirasakan nyeleneh ( kontroversi) buat sebagian besar masyarakat Cibiuk. Menurut penelaahan penulis faham-faham tersebut muncul yang tak terlepas dari apa yang diperjuangkan oleh Sukarmadji Kartosuwiryo ( pimpinan Darul Islam), yaitu ingin menjadikan Indonesia menjadi negara Islam Indonesia. Paham tersebut sampai sekarang masih dipegang teguh oleh sebagian pengikutnya, maka lewat tangan-tangan mereka lah banyak dari anggota organisasi Islam yang ada di Cibiuk, seperti Muhammadiyah, NU dan Persis yang terjerumus ikut kedalam ajakan mereka untuk mengikrarkan diri sebagai neo Darul Islam atau Darul Islam jilid II, setelah perjuangan Darul Islam yang dulu gagal memperjuangkan berdirinya NII.  Untuk mempresure calon anggota,  Mereka dijejali berbagai doktrin tentang teologi keislaman, jihad dan kemasyarakatan. Dimana yang dijadikan literatur dari ajaran-ajaran DI yang dulu. Mereka menolak dengan tegas pemahaman-pemahaman tentang ke Islaman yang di amalkan oleh organisasi Islam yang ada, menurutnya ajaran-ajarannya sudah melenceng jauh dari sunnah Rosululloh SAW, karena organisasi yang ada tidak memperjuangkan  terbentuknya negara Islam, kedekatannya dengan pemerintah serta adanya kompromi dengan orang-orang kafir. 

Gonjang-ganjing perbedaan reinterpretasi tentang syariah antara organisasi kemasyarakatan yang ada dengan sekelompok kecil yang mengklaim sebagai neo Darul Islam telah menimbulkan ekses yang kurang baik bagi perkembangan keagamaan di Cibiuk. Pertama,  generasi muda yang semula bebas bergaul dengan siap saja tanpa memandang status dan organisasi, harus terkungkung oleh dogmatisme yang difatwakan oleh kelompoknya. Maka yang terjadi  mereka termarjinalisasikan dari pergulan lingkungannya dan dia menjadi ekslusif dari dunia luar yang dulu pernah jadi bagian kehidupannya bahkan banyak kasus yang terjadi hubungan keluarga menjadi retak disebabkan oleh perbedaan prinsif itu . Kedua, terbengkalainya sasaran dakwah. Mestinya para tokoh masyarakat Cibiukharus  paham betul apa yang terjadi di dunia modern ini, tanpa disadari dunia modern telah merasuk jiwa-jiwa masyarakat Cibiuk pada umunya dan disayangkannya yang banyak diserap adalah dari sisi-sisi negatifnya. Bukan hal yang asing lagi khususnya didunia remaja dekadensi moral, pergaulan bebas, narkoba, minum-minuman keras dll, telah merata hampir disetiap kampung, kalau tanpa sentuhan dakwah maka lima tahun atau sepuluh tahun yang akan datang Cibiuk terkenal dengan dunia kriminalitasnya bukan dunia agamaisnya. Ini tentunya tugas berat terutama bagi para tokoh ulama dan masyarakat, bila dikedepankan egoisme dan perbedaan prinsif, maka tak pelak kita akan memonton generasi-generasi muslim yang bobrok.

Sangat disayangkan bila dulu Cibiuk sangat terkenal dengan lahirnya ulama-ulama besar, kini terkenal dengan Sambalnya, yang bila ditelaah sambal mempunyai nilai folosofis yang tinggi. Eyang Fatimah sebagai keturunan dari Syeh Jafar Sidiq membuat sambal bukan hanya untuk sebagai pelengkap makan, tapi dibalik itu sambal terdiri dari bebagai macam rempah rempah bila dijadikan satu dan diulek akan membawa kenikmatan tersendiri bagi orang yang makan. Begitu pun dengan masyarakat Cibiuk yang terdiri dari bebagai sifat dan watak yang berbeda harus disatukan dalam ukhuwah Islamiyah akan menjadi kekuatan dalam menggapai indahnya mardho tillah. Wallohu a’lam
Baca Selengkapnya... »

Selasa, 07 Desember 2010

Emakku Ingin Naik Haji (sebuah film yang menyentuh dimensi sosial diera modern)


oleh : Moh. Dahlan

Film Emaku Ingin Naik Haji mula-mula ditonton tak memberikan kesan yang mendalam dihati penulis, karena sebagaimana pengalaman yang dirasakan, film biasanya memberikan tontonan yang hanya dapat dinikmati pada saat ditonton saja, tidak memberikan nilai edukasi setelah film itu selesai, ya tujuan produser membuat film disamping untuk mendapatkan uang yang banyak, juga  untuk menghibur penontonnya, mau ada unsur edukasi  atau tidak tidak dalamnya tidak jadi bahan pertimbangan. Bahkan untuk menarik minat masyarakat untuk menonton film nya, sutradara membumbui  filmnya dengan adegan vulgas, sek dan kekerasan, yang diperankan oleh aktor dan artis yang sudah terkenal dengan cost yang tinggi.

Perfilman Nasional dewasa ini karena mungkin sepi kreativitas atau kurang modal, hampir semua judul-judunyal berbau horor dan mistik, seperti hantu perawan, suster ngesot, hantu karet dipak dll. Tentunya tak terlepas dari adegan-adengan yang mengundang birahi kaum lelaki.
Kembali lagi pada Film Emakku Ingin Naik Haji, menurut penulis film tersebut memberikan tontonan yang mengasyikan sekaligus mengharukan, bahkan tak terasa air mata tak terbendung meleleh dipipi karena terharunya sekenario yang dipertontonkan. Dalam Film tersebut ada dua sisi kehidupan yang kontradiktif, disatu sisi menggambarkan seorang nenek renta ingin naik haji, kalau diukur tingkat kemampuannya boleh dibilang mustahil untuk bisa berangkat naik haji. Dan disisi yang lainnya ada orang kaya yang sering melaksanakan haji dan umroh, mereka tidak mempersoalkan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa naik haji.

Seorang nenek yang tua renta dengan segala keterbatasannya itu tidak putus asa untuk bisa naik haji, dia berusaha sekian lama  mengumpukan receh demi receh rupiah untuk biaya naik haji, selama 5 tahun dia mengumpulkan 5 jt rupiah disamping itu dia terus berdoa kepada Allah agar niatnya dikabulkan. Dan yang membuat dia optimis disampingnya ada anak yang sholeh mensuport maksud yang mulia itu.

Tapi usaha untuk mengumpulkan uang tersebut mengalami kendala, Allah memberikan cobaan lewat cucunya buah perkawinan anaknya dengan istri yang telah diceraikan harus segera dioprasi sehingga uang 5 juta itu hasil dari pengumpulan selama 5 tahun harus direlakan untuk pengobatan cucunya.

Apakah cobaan itu sampai disitu, ternyata tidak, anaknya yang menopang kehidupan nenek renta itu harus cacat fisik karena ditabrak mobil oleh seorang saudagar kaya yang menurut ceritanya dia bermain fair dengan sekertarisnya an bertengkar dengan istrinya didalam mobi. Dia pun berrencana  menunaikan  haji, tapi  tujuannya bukan untuk ibadah kepada Allah, namun  supaya ada title didepan namanya dengan sebutan pak Haji, sehingga masyarakat bisa memilihnya untuk jadi Wali Kota.

Di balik penderitaan orang tua renta tersebut, dengan kesabarannya Allah mengabulkan permohonannya lewat tangan orang kaya yang menginginkan dia berangkat naik haji dengan anaknya yang melahirkan dengan idjin Allah dia selamat melahirkan secara alami, walaupun Dokter menyarankan supaya dia melahirkan dengan cara disesar karena ada kelainan posisi bayi didalam rahim. Dan akhirnya dia beserta anaknya atas idjin Allah bisa menunaikan ibadah Haji.

Bersambung .......
Baca Selengkapnya... »

Apa Yang Salah Di Negeriku Indonesia ?


Oleh Moh. Dahlan

Mengawali tulisan ini, penulis mencoba memberikan gambaran tentang negeri yang elok, indah serta kaya akan sumber daya alam, kata orang Indonesia sebagai Jamrud Katulistiwa, ya itu lah Indonesia. Tuhan telah memberikan kelimpahan rizki untuk bumi ini, bandingkan dengan daerah Afrika sana atau kutub utara dan selatan, negeri yang sebagian tandus dan sebagian lagi negeri yang terus dihiasi dengan dinginnya salju es yang membeku. Tapi, apakah warga negara Indonesia sudah sejahtera dengan persediaan sumber daya alam yang melimpah, jawabannya justru jauh dari panggangan api.

Ternyata data BPS menyebutkan bahwa warga negara yang hidup dibawah garis kemiskinan mencapai 17 % dari populasi penduduk yang berjumlah 250 Juta, jumlah tersebut belum ditambah dengan angka pengangguran dan penduduk miskin,  Mungkin  masyarakat lapisan menengah dan kalangan konglomerat tidak kurang dari 10%.  Padahal dalam berbagai kesempatan Presiden Yudhoyono telah berulang kali menyatakan bahwa ekonomi makro Indonesia sudah meningkat, bahkan selorohnya  Indonesia tergolong kedalam negara yang pertumbuhan ekonominya paling cepat dikawasan Asia.

Ya, pemimpin negeri boleh berargumentasi semacam itu, namun bukti ril dilapangan sangat bertolak belakang dengan retorika yang ada, dari mulai permasalahan masyarakat yang masih memakan nasi aking sampai pahlawan devisa kita (TKI) yang mendapatkan penyiksaan dari majikannya. Bandingkan dengan para konglomerat, seperti yang diliris oleh majalah PORBES  (100 orang terkaya di Indonesia) urutan nomor wahid ditempati oleh seorang taipan (Bos Djarum) dengan nilai kekayaannya 11 milyar US Dollar setara dengan 100 Triliun rupiah, penulis yakin dibalik kesuksesannya  mereka  (konglemerat) dalam berbisnis ada semacam kong kalingkong  dengan pemerintah. Pemerintah  memberikan akses yang luas serta memberikan kemudahan untuk mengembangkan dunia usahanya, tentunya ada sejumlah fee yang masuk kantong pejabat, sehingga banyak kasus dilapangan bila para konglomerat itu ingin menggunakan lahan untuk parik misalnya, rakyat digusur oleh satpol PP tanpa memberikan dispensasi yang selayaknya diterima oleh mereka.

Sisi lain dari problematika yang sedang dihadapi oleh penduduk negeri ini adalah kebobrokan moral  baik yang dilakukan oleh para pemimpin ataupun masyarakat pada umumnya. Dalam hal ini Penulis akan lebih menyoroti pada dekadensi moral remaja sebagai pewaris negeri ini. Kita patut terhenyak dan juga Istighfar mohon perlindungan kepada Allah SWT, dalam mensikapi apa yang telah terjadi dibumi Indonesi kurun terakhir ini, menurut hasil penelitian yang dirilis Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bahwa remaja putri yang berdomisili dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Bandung 50% nya  menyatakan sudah tidak perawan lagi (virgin) nauzubillahi min dzalik!.  Kita selaku orang yang menyatakan diri sebagai orang yang beriman tentunya merasa sangat prihatin dengan kondisi tersebut. 

Apa jadinya bila dikemudian hari negeri yang kita cintai ini dipimpin oleh seseorang yang ahlaknya sudah rusak, negeri ini diambang  kehancuran,bayangkan saja berapa juta anak-anak Indonesia sudah terjerumus pada ajang prostitusi. Penduduk Jakarta misalnya sekarang berjumlah 15 Juta jiwa apabila usia remaja berjumlah 8 jt jiwa berarti 4 jt lebihnya sudah melakukan seks bebas. Penulis sangat  yakin azab Allah akan segera tiba, bila ada tidak solusi dari berbagai pihak untuk menanggulangi permasalahan ini,  seperti apa yang terjadi pada kaum Nabi Luth, Allah SWT membinasakan kaum Nabi Luth karena mereka sudah melakukan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT, ya diantaranya seks bebas (free sex), homoseksual dll.

Peran Pemerintah Dan Masyarakat
Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat harus bersinergi untuk memecahkan masalah ini, baik orang tua sebagai garda terdepan untuk lebih intensif memperhatikan prilaku anaknya bila dia sudah menginjak usia remaja, pemerintah melalui instansi-instansi terkait bisa merumuskan kebijakannya yang konkrit sehingga bisa meredam bahkan menghentikan praktek-praktek semacam ini, Ulama sebagai benteng moral bangsa harus lebih intensif memberikan penyadaran pada masyarakat tentang bahaya dari prilaku seks bebas ini, lembaga pendidikan keagamaan memberikan pelayanan terbaik bagi siswa sehingga mereka bisa memahami akibat yang ditimbulkan dari perbuatan ini.

Dan yang lebih penting dibalik usaha-usaha berbagai lapisan masyarakat untuk membasmi praktik-praktik semacam ini adalah pemerintah dan wakil rakyat mereformasi aturan (hukum) yang ada, karena longgarnya aturan yang mengatur prilaku perzinaan, maka orang yang ingin melakukan hubungan pra nikah tidak punya beban untuk melakukannya, diperparah lagi dengan apatisnya sebagian masyarakat bila melihat kejadian itu, media cetak dan elektronik sudah begitu vulgar menayangkan prilaku perzinaan dan kekerasan tanpa ada batasan yang jelas. 

Implementasi UUD Pornografi dan Pornoaksi
Sebenarnya bila pemerintah secara sungguh-sungguh bisa  mengimplementasikan Undang-Undang Pornoaksi dan Pornografi  yang dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah, tentunya kejadiannya tak seperti ini. Pemerintah dirasakan setengah hati untuk menjastifikasi kan aturan ini, banyak benturan kepentingan yang melatarbelakangi kenapa Undang-Undang ini belum dijalankan secara maksimal, yang menurut sumber yang dapat dipercaya, kalangan non muslim dan golongan pegiat pluralisme dari awal sangat giat menolak disyahkan nya Undang-Undang ini. Mereka berpendapat bilamana UU ini di sahkan akan mematikan kreativitas anak bangsa dan melanggar hak azasi manusia. Padahal kalau mereka berfikiran arif dan bijaksana tanpa diembel-embel stigmatisasi agama sebenarnya Undang-Undang ini bukan hanya mengakomodir kepentingan golongan Islam saja, namun manfaatnya akan sangat dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat, tidak hanya terkooptasi untuk kalangan umat Islam saja.

Mengakhiri dari tulisan ini, penulis ingin memberikan kesimpulan dari tulisan ini. Pertama, problematika remaja dewasa ini mengalami titik kulminasi, maksudnya karena rendahnya pengetahuan norma agama dan kemasyarakatan, prilaku sek bebas mereka anggap sebagai ungkapan cinta sejati yang diberikan kepada pasangannya, tidak terbersit dalam benaknya bahwa prilaku ini adalah perbuatan dosa.

Kedua, daya dukung  masyarakat untuk mencegah perbuatan ini dirasakan sangat kurang, dengan dalih tren, modern dan kebebasan.  Masyarakat begitu apatis mengawasi keluarga dan lingkungannya. Bahkan lebih celaka lagi ada sebagian orang tua yang membebaskan pergaulan anak gadisnya diluar rumah, mereka berdalih juga anak jaman sekarang kalau dibatasi akan minder dan menutup diri dari lingkungan
Ketiga, aturan formal (legal formal) masih setengah-setengan dijalankan oleh pemerintah. UU Pornografi dan Pornoaksi baru sebatas retorika belum dioptimalkan secara komprehensif.

Maka untuk memecahkan permasalahan ini, sinergitas berbagai elemen masyarakat bahu membahu mengikis habis budaya ini, diakui atau tidak kita telah melakukan dengan istilah “dosa berjamaah”, karena ketidak kepekaan kita akan masalah ini, tidak ada salahnya kalau dibentuknya Polisi Syari’ah seperti yang telah diberlakukan di Nangro Aceh Darussalam, ternyata cukup efektif membatasi pergaulan remaja. Negara ini memang bukan negara Islam ( Islam Justic) namun apakah bukan hal yang mendesak bila aturan-aturan Islam  bisa dielaborasi kedalam hukum positif untuk kemaslahatan ummat. Wallohu’alam bissowab.
Baca Selengkapnya... »

Pengelola Blog

Foto saya
Garut, Jawa Barat, Indonesia
Moh Dahlan adalah salah satu anak dari Kiyai Besar, H. Aceng Kosasih sang Pendiri Pesantren AlFurqon Muhammadiyah yang berada di Kecamatan Cibiuk-Garut. Keseriusan dan kesemangatannya dalam memahami ilmu-ilmu agama yang tertuang di dalam kitab-kitab klasik (kitab kuning) dan juga melalui pendidikan kuliahnya menjadikan dirinya mahir dalam memahami masalah sosial-keagamaan. Perjuangan Moh Dahlan dalam menyebarkan agama Islam melalui Pesantren yang saat ini tengah dikelolanya senantiasa didampingi oleh Istrinya yang cantik dan juga mempunyai etos kerja yang tangguh, Yakni Teh Nenden (begitu para santri memanggilnya). Pada Buah hatinya, Alif dan Wanda Moh Dahlan menyimpan tumpuan yang sangat besar. Harapannya tiada lain menginginkan kedua anaknya menjadi anak yang soleh dan solehah. "Nak, Ingatlah! Kehidupan yang akan datang, yang akan kalian jalani pasti tidak sama dengan kehidupan saat ini. Suatu zaman akan datang dimana akhlak yang baik dan ilmu agama seolah menjadi sebuah mutiara yang bercampur dengan debu di padang pasir. kalian mencari mutiara itu dengan sungguh-sungguh pun akan sangat sulit, apalagi tidak serius!" begitu nasihat pada kedua anaknya.

 
Cheap Web Hosting | Top Web Hosts | Great HTML Templates from easytemplates.com.